Senin, 18 Mei 2009

PUASA DAN KIAT MEMILIH PEMIMPIN

Diantara hikmah terpenting dari syari’at puasa di bulan Ramadhan adalah mengasah nurani dan kata hati agar sanggup melihat apa yang tersembunyi di balik fenomena yang nampak di permukaan. Kepekaan terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain, tidak hanya melulu kepekaan terhadap penderitaan mereka secara materi, tetapi berbagai kekurangan lain yang dirasakan oleh siapa saja yang hidup dalam kondisi minus, marjinal, dan terabaikan secara social. Kepekaan seperti itu diharapkan tidak berhenti sampai di sana, tetapi terus menukik kepada ketajaman intuisi untuk melihat apa yang baik, dan apa yang tidak baik di masa datang.

Diantara persoalan masa datang yang perlu dicermati dengan kepekaan seperti disebut di atas adalah kecermatan kita dalam menentukan pilihan terhadap calon pemimpin. Di sinilah, agaknya, apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bishri, salah seorang sufi terbesar dalam sejarah Islam. Ahli hikmah ini berpesan kepada anaknya. “wahai anakku ! Seandainya Engkau memilih akar untuk tempatmu bergantung, pilihlah akar yang menjalar ke tanah, karena ia akan terus hidup dan berkembang, dan jangan Engkau pilih akar yang menjulang ke atas, karena ia akan terputus, dan tidak akan kuat diterpa angin. Ia hanya pandai melenggak lenggok menebar pesona, tetapi setelah dijadikan tempat bergantung ia akan runtuh ke bumi, dan Engkau pun tersungkur berlumur debu penuh penyesalan.”

Walaupun tamsil ahli hikmah di atas begitu ringkas, tetapi memiliki makna yang dalam untuk diresapi sebagai sebuah ajaran kehidupan bermasyarakat. Karena sebagai seorang yang akan dijadikan tempat bergantung dan berlindung secara mondial, pemimpin adalah akar tempat bergayut. Bergayutlah dengan akar yang mengakar, dan jangan bergayut kepada akar yang hanya tergantung tapi tidak punya pijakan di bumi. Secara sosiologis, pepimpin yang akan dipilih adalah pemimpin yang hatinya ada di rakyat, dan hati rakyat juga ada di hatinya. Secara materi, fondasi ekonominya kuat, sehingga jabatan bukan untuk mencari makan, tetapi untuk pengabdian. Secara reliji, imannya kuat, sehingga jabatan dimaknai ujian, dan bukan kesempatan. Secara moral, akhlaknya baik, sehingga jabatan menjadi cermin bagi rakyat untuk mengaca diri. Secara visi, pandangannya jauh ke depan, sehingga jabatan tidak untuk kenikmatan, tetapi untuk kemaslahatan dan kebahagiaan. Secara budi, jiwanya halus, sehingga jabatan berjalan dalam kearifan, dan bukan dengan kebebalan, tahu bertanggangrasa, pandai membalas budi, mau diberi nasehat. Secara akali ilmunya dalam, sehingga jabatan berjalan tepat sasaran dan tidak asal-asalan, tahu mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Secara jasadi badannya kuat dan jiwanya sehat, sehingga jabatan untuk melindungi dan bukan dilindungi, jabatan untuk menuntun dan bukan untuk dituntun. Ia tetap berjiwa besar, walau kecaman silih berganti. Tidak pernah cengeng walau sering dicuai. Tidak mau mencaci, walau sering kena caci. Sabar hiasan dirinya, tegar kekuatan jiwanya, rendah hati senjata batinnya, dan takwa kepada Allah denyut nadi semua kebijakannya.

Persoalan kita hari ini adalah betapa sulitnya mencari calon pemimpin seperti itu, walau betapa rindunya rakyat untuk menemukannya di tengah bangsa kita yang masih sakit ini.

Memang, pemimpin adalah representasi dari masyarakatnya. Ia adalah cerminan masyarakat di mana ia dipilih menjadi pemimpinnya. Tetapi, pemimpin adalah juga pembentuk prilaku masyarakatnya. Ia adalah acuan, sehingga prilaku yang ditampilkan menjadi ramuan budaya bagi rakyatnya (cultural builder). Maka, rakyat menjadi penentu siapa atau seperti apa pemimpinnya, dan pemimpin pun akan jadi penentu menjadi apa atau seperti apa rakyat yang ia pimpin. Tetapi, walau bagaimanapun, semua berawal dari bawah, dan yang dari bawah itu adalah masyarakat banyak yang menjadi akar dari sebuah kepemimpinan. Oleh sebab itu, criteria seperti diungkap di atas agaknya akan menjadi renungan sebelum menjatuhkan pilihan. Bila semua criteria dijumpai ada pada diri seorang calon, maka calon itulah yang pantas untuk dipilih. Tetapi bila tidak satu pun calon yang memenuhi semua criteria tersbut, maka pilihlah siapa yang pada dirinya terdapat lebih banyak criteria itu dibanding yang lain.

KETIKA BERDIRI DI DEPAN KACA

Agaknya, tidak ada manusia yang tidak pernah berdiri di depan kaca, bercermin melihat wajahnya, melihat rambutnya, melihat tubuhnya, melihat semua yang ingin ia ketahui tentang jasad kasarnya. Cermin dan bercermin seakan telah menjadi salah satu kebutuhan yang sangat melekat dengan keseharian hampir semua manusia. Selama ada sarana, selama itu pula manusia tidak pernah lupa bercermin, di rumah, di kantor, dan bahkan di toilet-toilet umum di mall dan lain sebagainya.

Secara umum, bercermin adalah ativitas keseharian seseorang untuk mengetahui potret tubuh yang sebenarnya pada saat itu. Apakah rambutnya masih utuh, sudah rapi, atau sudah ada yang gugur, mulai botak atau beruban. Apakah wajahnya terlihat segar, dan masih licin seperti dulu, atau sudah mulai layu atau kuyu dimakan usia. Apakah baju, celana, dan sepatunya sudah rapi dan serasi, cara pasang atau paduan warnanya. Apakah tubuh dan performannya secara kesaluruhan sudah fit untuk mulai beraktivitas di hari itu secara mayakinkan, sehingga kepercayaan diri muncul dan kerjapun menjadi lancar. Semua dipatutnya, semua dinilainya dengan daya kritis yang tinggi. Mereka berusaha keras memperbaiki mana yang dinilai belum pas, dan tidak segan-segan mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaiki penampilan fisik, tubuh kasar yang terlihat di dalam cermin itu. Tetapi, pernahkah mereka juga melakukan kritik terhadap akhlak dan prilaku kesehariannya ketika beridir di depan kaca itu ?

Inilah persoalan manusia pada umumnya, persoalan bangsa Indonesia kita pada khususnya. Krisis yang runtun beruntun sejak lebih dari sebelas tahun lalu dan belum pulih sampai hari ini diyakini tidak akan pulih sehat kembali sebelum akhlak bangsa ini sehat kembali terlebih dahulu. Mereka berdiri di depan kaca hanya untuk melihat poter tubuh kasarnya, tetapi tidak berusaha untuk melihat dan mengoreksi kepribadian yang berada dalam batang tubuh kasarnya itu. Padahal lebih dari 14 abad silam Nabi telah mengajarkan apa yang harus diakukan ketika bersolek memperindah diri, ketika berdiri di depan kaca. Nabi yang agung itu mengajarkan sepotong do’a singkat untuk selalu dibaca ketika melihat keeelokan tubuh di depan cermin. Ada dua macam do’a yang beliau ajarkan untuk itu: Pertama, “Ya Allah, percantiklah aku dengan ilmu dan takwa. HIasilah aku dengan hati yang lembut dan budi pekerti yang mulia;” Kedua, “Ya Allah, sebegaimana Engkau telah elokkan rupaku, maka elokkan pulalah akhlakku.”

Saya fikir, doa yang diajarkan Nabi di atas tidak harus hanya teruntuk dan terhenti di depan kaca cermin dalam ukuran kecil yang tergantung di dinding kamar dan di ruang-ruang tertentu. Doa itu juga harus diucapkan di depan “kaca” lebar yang terbentang sebagai alam luas di depan mata. Sebagai bangsa yang dianugerahi alam yang indah, misalnya, kita berdo’a, “Ya Allah, Engkau anugerahkan kepada kami alam yang indah, maka indahkan pula akhlak bangsa kami di depan-Mu dan di depan mata bangsa-bangsa yang lain.” Sebagai bangsa yang dianugerahi bumi yang kaya, kita berdo’a, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah anugerahkan kepada kami bumi yang kaya, maka kayakan pulalah jiwa bangsa kami dengan kebesaran jiwa sehingga kami menjadi bangsa yang pandai bersyukur, bangsa yang qana’ah, jauh dari jiwa kerdil yang rakus, sehingga kekayaan yang Engkau berikan ini sampai kepada anak cucu dengan selamat dan lestari.” Sebagai bangsa yang dianugerahi Negara yang luas, kita berdo’a, “Ya Allah sebagaimana Engkau telah luaskan negeri kami, luaskan jugalah wawasan kami, sehingga mampu memandang jauh ke depan, terhindar dari fikiran sempit yang hanya tahu kepentingan sesaat, lalu menabrak dan menubruk ke sana ke mari, melanggar aturan serta norma hidup yang sudah ada, hilang rasa dan perisa, dan hilang tenggangrasa dalam kehidupan bersama.”

Begitu indahnya doa yang diajarkan Rasul, dan tentu begitu indahnya pula akhlak yang diinginkan muncul dari pribadi yang berdoa itu. Tetapi mungkinkan itu semua terjadi bila yang bercermin itu tidak pernah berdoa seperti tiu, apalagi memang tidak berupaya ke arah itu ?

Marilah kita semua menjawabnya sendiri-sendiri, karena pertanggungjawaban di depan Sang Khalik nanti juga sendiri-sendiri.

ANTARA ULAR DAN ULAMA

Seorang ustaz berkata bahwa ia didatangi oleh salah seorang calon anggota legislative (caleg). Sang caleg minta petunjuk dan dukungan agar ia terpilih sebagai anggota legislative dalam pemilihan umum (pemilu) nanti. Untuk itu ia minta agar sang ustaz mau memberi pengajian di salah satu mesjid yang ia pilih untuk memperingati tahun baru hijriyah.
Apa yang dikatakan oleh si uztas di atas bukanlah hal yang baru di dunia politik. Dari dulu memang sering terjadi, ulama dijadikan “alat”, kalau tidak suka disebut diperalat. Bahkan cukup banyak bukti betapa ulama pun ikut bermain sebagai pemain politik, sebagai peran tambahan yang sebenarnya tidak ada larangan untuk itu.
Kecuali sebagai pemain, menggunakan ulama sebagai penasehat adalah cara yang amat dianjurkan oleh agama untuk dilakukan, apalagi oleh seorang calon pemimpim. Tetapi menjadikan mereka (ulama) sebagai alat, adalah cara yang berbahaya, baik untuk umat, apalagi untuk kesucian syariat. Berbahaya, karena dunia politik, terutama politik praktis, cenderung menggunakan kalkulasi untung-rugi dan atau kalah-menang. Kalkulasi seperti ini sering mendorong seseorang melakukan apa saja agar menang atau beruntung. Akibatnya, bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi bila seorang ulama ikut terseret ke dunia untung-untungan atau menang-menangan tersebut. Agama dengan segenap nilai-nilai sucinya akan ikut menjadi alat, bersamaan dengan diperalatnya sang ulama. Di sini, politik menjadi sesuatu yang jahat, dan akhirnya ulama atau bahkan agama pun bisa dinilai pula sebagai jahat. Implikasi lebih jauh akan terjadi seperti apa yang terjadi di Eropa sebelum zaman renaesance, di mana Negara dan agama dinilai sama jahatnya, sehingga raja dan “tuhan” pun perku dibunuh.
Tapi, terlepas dari itu semua, saya jadi ingat anekdot seorang teman tentang kebiasaan politisi tertentu dalam memperalat ulama. Teman itu berkata bahwa ulama bagi politisi tak ubahnya sebagai seekor ular bagi serorang tukang jual obat di pinggir jalan atau di tengah pasar. Untuk menarik perhatian orang, si tukang obat mengeluarkan ular dari karung yang dibawanya. Dengan kelihaiannya beraksi dan berbicara, si tukang obat mengatakan bahwa ular yang ada di tangannya itu bisa melakukan atraksi apa saja yang ia suruh. Akibatnya, orang mulai berkumpul, Mereka menanti saat-saat kapan si ular mulai beraksi. Tapi di saat itu pula, si tukang obat mulai mengalih-alihkan pembicaraan tentang kesehatan yang lama kelamaan mengarah kepada obat yang ingin ia jual. Sambil bercerita, ia memasukkan si ular ke dalam karung secara berangsur-angsur, mulai dari ekor, terus ke kepala dan akhirnya masuk semua ke dalam karung. Karung ditutup, dan si tukang obat melanjutkan jual obatnya tanpa menyinggung-nyinggung lagi keberadaan sang ular yang telah berjasa menarik pehatian khlayak berkumpul di sekitarnya. Ia terus saja berpidato sampai obatnya terjual habis, dan ular tinggallah sendiri dalam karung tanpa ada yang memperhatikannya sama sekali.
Agaknya anekdot di atas tidaklah terlalu berlebihan untuk mengingatkan kita, terutama mereka yang termasuk dalam dunia poitisi dan juga dunia ulama. Al-Mawardi, pakar ilmu politik yang hidup beberapa ratus silam pernah mengatakan bahwa politik dan agama sama pentingnya untuk kemashalatan manusia. Tetapi perlu diingat, agama bukan sebagai alat, tetapi sebagai pengingat. Politiklah sebagai alat untuk mengatur Negara, sementara agama sebagai penuntun jalannya politik, dan bukan politik yang akan memperalat agama. Kalau ini terjadi, maka yang akan terjadi adalah kehancuran.
Oleh sebab itu, politisi yang baik, adalah politisi yang berteman dengan ulama untuk menasehati ketika salah, untuk mengingatkan ketika lupa. Ia berteman dengan ulama bukan untuk memperalat ulama, tetapi untuk kepentingan rakyat dan bangsanya. Sebaliknya, ulama yang baik adalah ulama yang berteman dengan pemimpin sebagai sahabat. Ia komit memberiingat, karena sayang, ia terus memberi nasehat karena cinta. Ia tidak ingin orang yang disayang dan dicinta terjatuh dalam kesalahan, sehingga rakyat yang dipimpinpun ikut menanggung akibatnya.

Selasa, 28 April 2009

“PERCERAIAN” POLITIK

Beberapa minggu yang lalu, ketika belum keluar statemen “bercerai” dari salah seorang pemimpin tertinggi bangsa yang kini masih berpasangan dan bersatu di lembaga kepresidenan, banyak rakyat berharap agar Susilo Bambang Yudoyono – Jusuf Kalla (SBY-JK) bisa menjadi contoh bagi generasi berikut yang mengedepankan kepentingan bangsa dari kelompok dan golongan, sehingga tetap berpasangan melanjutkan kepemimpinan nasional untuk masa lima tahun ke depan. Harapan itu kandas setelah Rapimnas Golkar memutuskan untuk memajukan JK sebagai calon presiden pada pemilihan presiden di bulan Juli yang akan datang.

Tentu saja semua itu adalah hak yang bersangkutan, dan juga hak partai politik di mana Jk berada dan menjadi ketua umumnya. Tetapi adalah juga hak rakyat untuk kecewa dengan keputusan tersebut. Harapan untuk menjadikan pasangan ini sebagai contoh buat pasangan-pasangan politik lainnya agar tidak mudah mengeluarkan kata “cerai” di kalangan pejabat tingkat bawah dalam struktur pemerintahan pun menjadi buyar. Ternyata, “pernikahan” politik tidak pernah langgeng, karena penuh dengan basa-basi dan kepura-puraan sementara. “Pernikahan” ini amat rapuh, sehingga lebih banyak siksanya dari pada sukanya. Kelihatannya, pasangan semacam ini tidak berusaha untuk menyatukan hati seletalah badan mereka disatukan, tetapi justru berupaya mencari kesempatan sendiri-sendiri untuk menaikan popularitas diri dan kelompoknya, sehingga “rumah tangga” mereka sangat sarat dengan nuansa kecurigaan.

Begitulah rupanya sejarah kebanyakan pasangan politik, baik presiden, gubernur, walikota, dan bupati. Hampir semuanya berakhir dengan “perceraian.” Cerai karena ternyata politik hanya mampu menyatukan badan mereka, tetapi tidak hati mereka. Apalah artinya badan bersatu di suatu tempat, sementara hati tetap berada di tempat yang berbeda. Sejarah pun akhir juga bicara bahwa apapun bentuknya, yang namanya politik tidak bisa menyatukan hati. Ia hanya bisa menyatukan pisik jasadi. Penyatuan jasadi adalah kepentingan dan panggilan keduniaan, sementara penyatuan hati adalah cita-cita dan keabadian. Oleh karenanya adalah sesuatu yang salah bila dunia seperti ini dibawa-bawa ke ranah lain yang bukan ranahnya kepentingan, seperti dunia dakwah dan dunia pendidikan. Dua dunia yang disebut terakhir adalah ranah idea, ranah cita-cita, dan ranah keabadian. Pendekatannya adalah cinta, sementara politik (baca: parktis) adalah curiga.

Tapi, bukankah begitu yang dinamakan politik, yang kalkulasinya lebih terarah kepada kepentingan diri atau kelompok dibanding kepentingan bersama ?

Jawabnya tidak harus selalu begitu. Idealnya, politik adalah untuk menata kehidupan bersama dalam bernegara, dan untuk kepentingan bersama dalam negara tersebut. Politik adalah sesuatu yang baik. Ia berubah menjadi jahat ketika berada di tangan orang jahat. Itulah makanya dalam ajaran Islam dikatakan bahwa imam, sang pemimpin politik, haruslah berasal dari orang yang benar-benar menganut prinsip bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijaga dan pertanggungjawabkan, dan bukan rahmah yang boleh dinikmati sebagai sebuah pemberian dan kesempatan.

Maka, bisakah kita di bulan Juli nanti mendapatkan pemimpin seperti yang diajarkan Islam itu ? Marilah kita coba memilih dan memilah. Jejak masa lalu calon yang akan tampil menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini nanti adalah diantara cermin untuk mengukur mana yang bisa menjaga amanah, dan mana pula yang hanya sekedar mencari “berkah.” Marilah kita bersatu karena hati, bukan karena materi. Di hati ada bisikan ilahi, sementara di materi banyak bisikan syaithani.

PEMIMPIN DAN PARA PEMBISIK

Sejarah membuktikan bahwa kebanyakan pemimpin jatuh bukan karena kebodohan, tetapi karena para pembantunya. Diantara para pembantu itu adalah “pembisik”, yaitu orang-orang dekat yang sering memberikan masukan atau dimintai saran. Pada umumnya, mereka adalah orang-orang kepercayaan, sehingga tidak jarang sang pemimpin mempercayai saja apa yang mereka katakan, tanpa berupaya memikiri dan menyelidiki lebih dalam akan apa yang disampaikan oleh para pembisik itu. Begitu siginifikannya peran pembisik, tegak dan hancurnya suatu negara sangat ditentukan oleh kearifan dan kesungguhan pemimpin mendengarkan kata hatinya dalam memilih dan menerima masukan dari para pembisiknya. Mantan Presiden Soeharto adalah contoh terdekat yang dapat dijadikan pelajaran dalam kasus ini. Suara hati yang melarangnya untuk maju kembali sebagai calon presiden kali yang ketujuh pada tahun 1997, dikesampingkan oleh bisikan orang-orang tertentu yang mengatakan bahwa ia masih diinginkan rakyat sebagai presiden. Padahal dalam kenyataannya, ia sudah tidak diinginkan lagi oleh rakyat. Reformasi tahun 1998 yang menyebabkan ia menyerahkan jabatan secara terpaksa kepada Wakil Presiden, BJ.Habibie, adalah bukti nyata untuk semua itu. Ia jatuh. Ia dicaci. Ia dimaki. Bahkan, ia dihina, seakan-akan tidak pernah berjasa selama ini untuk negeri ini. 32 tahun membangun negeri, seakan tidak ada arti untuk harga dirinya. Ia jatuh karena pembisiknya, dan ia hancur juga karena para pembisiknya..
Lalu, adakah ajaran agama ( Islam ) yang mengingatkan kita tentang para “pembisik” ini ? Jawabnya, ada. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nasa-i, dari Abi Hurairah, Nabi berkata : “Tidaklah ada seorang pemimpin, kecuali ia memiliki dua kelompok pembisik (bithanah). Satu kelompok pembisik yang senantiasa membisikinya agar berbuat baik, dan melarangnya berbuat mungkar, dan satu kelompok pembisik yang tidak henti-henti menimbulkan kemudharatan kepadanya. Seorang pemimpin akan menjadi bagian dari kelompok yang paling berpengaruh baginya di antara dua kelompok tersebut.”
Lalu, siapakah yang dimaksud dengan “pembisik” itu ?
Seperti disebut di atas, mereka adalah orang-orang dekat yang dipercaya oleh sang pemimpin. Dan, bila merujuk kepada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, maka boleh saja “pembisik” itu menteri, wakil, asisten, pembantu, dan lain sebagainya. Nabi bersabda : “Bila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang pemimpin, maka Ia memberikan untuknya seorang asisten (wazir) yang jujur. Jika ia lalai, si asisten akan mengingatkannya, dan jika ia ingat, si asisten akan mendukungnya. Namun bila Allah menghendaki kebalikannya, maka Ia akan memberinya asisten yang buruk. Jika ia lalai, asisten membiarkannya, dan jika ia ingat asisten tidak mendukungnya.
Ibn Hajar al-‘Asqalani mendefinisikan “pembisik” itu dengan “orang-orang yang memiliki akses untuk bertemu seorang pemimpin di ruang khususnya, menyampaikan kepadanya informasi-informasi rahasia, lalu sang pemimpin percaya begitu saja, dan mengambil kebijakan sesuai dengan pesan yang dibisikkan itu. “
Saya fikir, apa yang dikemukan oleh hadis dan ulama terkemuka di atas sangat relevan dibicarakan dalam konteks kepemimpinan kita di negara Indonesia hari ini dan hari mendatang. Walau nasib caleg belum diketahui secara pasti, apakah mereka akan duduk sebagai anggota legisltaif, atau “terduduk” sebagai pihak yang kalah dalam “pertandingan” pemilihan umum tanggal 9 April 2009 yang lalu, namun di negeri ini ada, aka nada, selalu ada dan harus selalu ada pemimpin yang akan mengendalikan negeri ini sesuai cita-cita yang telah dipancangkan oleh para founding fathers. Kearifan seorang pemimpin dalam menentukan siapa yang akan dijadikan pembantu atau orang kepercayaannya, tidak saja akan menentukan kredibilitas dan nasib si pemimpin, tetapi bahkan akan menentukan nasib negeri ini di masa datang. Pengalaman adalah guru yang paling baik, dan guru yang baik tidak akan pernah berbohong. Namun, kelihatannya kita masih belum mau belajar kepada guru yang paling baik itu. Lalu, kapankah ?

MONYETPUN PUNYA HARGA DIRI

Dalam dialog interaktif di Radio Republik Indonesia Pekanbaru pagi Senin, 22 Desember 2008, seorang penelepon menyampaikan kekesalannya terhadap prilaku Muntazer al-Zaidi, wartawan Televisi Irak yang melempar Presiden Amerika Serikat, George W.Bush, dengan kedua sepatunya dalam suatu wawancara tanggal 14 Desember 2008 lalu. Penelepon itu menyatakan perangai wartawan Irak itu sangat memalukan dan pantas diberi hukuman berat. Ketika itu saya mengatakan bahwa sebelum memberi penilaian, sebaiknya kita mencoba menempatkan diri pada posisi sang wartawan tersebut, yang orang Irak, yang Negaranya diluluhlantakkan dan ribuan anak-anak bangsanya “dibunuh“ oleh Bush. Saya mengatakan bahwa bila kita melihat peristiwa itu melalui diri sang wartawan, maka kita akan berkata bahwa semua itu adalah sebuah spontanitas dari seorang anak bangsa Irak yang harga dirinya terkoyak-koyak karena diinjak-oleh Bush yang ketika itu ada di depan matanya. “Saya tidak tahu apa yang akan kita lakukan, bila al-Zaidi itu adalah kita.” Kalimat ini tidak saya ucapkan, tetapi hanya ada dalam hati. “Akan adakah anak-anak bangsa ini berani seperti al-Zaidi bila harga dirinya dikoyak dan diinjak bangsa lain ? Atau hanya diam seribu bahasa, karena memang sudah biasa dihina dan dicerca?”

Entahlah. Yang jelas pertanyaan itu mengingatkan saya akan sebuah peritiwa di sebuah kota Cina bagian Timur beberapa waktu lalu. Peristiwa itu terjadi ketika seorang pemain “topeng monyet” memukul salah seekor monyet asuhannya yang tidak mau disuruhnya mengendarai sepeda. Tidak terima kawannya diperlakukan seperti itu, tiga ekor monyet lain yang sama-sama pemain topeng itu segera menyerang majikannya dengan mengambil tongkat di tangan sang majikan serta mengigit leher si majikan yang kasar tersebut. Akibatnya sang majikan kalangkabut dan merasa malu dilihat banyak orang yang sedang menonton pertunjukan itu.

Dua peristiwa di atas seakan mengajar kita bahwa ternyata monyet saja punya solidaritas dan harga diri bila saudaranya dihina dan disakiti. Tetapi bagaimana dengan bangsa kita ? Masihkah ada solidaritas kebangsaan untuk saling menghargai, menghormati dan menjunjung rasa kebersamaan seperti yang dulu ditunjukkan oleh para pendahulu dan pendiri bangsa ini ?

Entahlah, saya tidak tahu pasti. Tapi bila jawabnya “ya” atau “masih”, maka pertanda harkat dan martabat bangsa ini masih ada harapan untuk naik kembali. Namun bila jawanya “ragu” atau bahkan “sudah hilang,” maka sangat beralasan untuk mengatakan bangsa ini telah lebih rendah dari monyet. Saya juga tidak tahu pasti, “apakah atas alasan ini juga banyak perusahaan kini memakai monyet sebagai ‘model’ iklannya di berbagai media ?” Bukankah itu tidak berarti kita lebih menghargai makhluk yang mirip dengan manusia itu daripada manusia sendiri ? Apakah memang benar kita kini sudah lebih rendah darinya ?

Wallahu a’lam